Kamis, 20 Oktober 2011

Ku Titipkan Impianku Padamu - #4

Keuraeyo nan nan kkumi isseoyo… Jeo chagapke so inneun unmyongiran
Byeogape tangdanghi majichi su isseoyo… Eonjenga na geu byeo geui neomgoseo
Suara itu samar-samar mengusik telinga Alisya.
Jeo haneureul nopi nareulsu isseoyo.. Ge mugeoun sesangdo nareul                                          Mukkeulsus eoptjo nae sarme kkeutesse…
Seorang cewek dengan rambut dikuncir kuda, tanpa ragu menyenandungkan nada demi nada. Suaranya pelan, namun terdengar begitu merdu.
“Na…”, Alisya mencoba memanggil cewek itu dengan suara serak.
“Sya? Uda bangun lo?”, kata Allena dan langsung beranjak dari kurisnya. Diikuti dengan seorang cowok di belakang Allena.
“Lo ga kenapa-kenapa kan? Mana yang sakit?”, tanya cowok itu. Alisya menggeleng.
“Na, gue dirumah sakit apa?”, tanya Alisya.
“Cipto, dia yang bawa lo kesini, terus pihak rumah sakit nelpon bokap lo.`”, jawab Allena, dan melirik Evano disebelahnya.
“Bokap gue? Maksud lo?”, tanya Alisya khawatir. Allena menghela nafas.
“Sorry, gue yang certain semua, bokap lo marah banget ke gue, dia nganggep gue yang bikin lo pingsan, terus bokap lo nelpon dia.”, jelas Evano. Alisya menghela nafas.
“Sudahlah, cepet atau lambat juga bokap gue, pasti bakal tau.”, Alisya memalingkan wajahnya dari mereka berdua. Suasana jadi hening sejenak.
“Apa lo ga tau? kalo orang yang punya penyakit gagal ginjal itu ga boleh terlalu capek.”, tanya Evano hati-hati. Alisya menoleh kepadanya.
“Gue tau, gue sangat tahu tentang penyakit gue. Tapi gue ga mau nyerah sama takdir, gue harus bisa melewati takdir gue dan wujudin imipian gue.”,  kata Alisya dengan mata berbinar.
“Impian?”, tanya Evano.
“Dia pengen jadi penari Internasional.”, sela Allena, dia tak ingin jadi kambing conggek.
“Kenapa?”. tanya Evano lagi.
“Waktu gue masih kecil, gue pernah nonton pertunjukkan balet internasional, gue langsung terkesima, dia disambut meriah sejak itu, gue bertekad, gue juga harus bisa jadi penari kayak dia.”. Alisya kembali bekata dengan mata berbinar. Evano terhenyak, dia terkesima melihat keteguhan Alisya. Hatinya bergetar, dia ingin membantu cewek ini, mewujudkan mimpinya.
*****
“Gelap sekali disekelilingku.”, batin Nadean. Samar-samar dia mendengar suara perempuan terisak. Dia menolehkan kepalanya pelan. Tak terlihat apapun.
“Dean..kamu sudah sadar nak?.”, seorang perempuan mengusap kepala Dean pelan.
“Ibu… kenapa ibu menaggis, bu.. kenapa semua jadi begitu gelap?”, Nadean panik.
“Kemarin, kamu kecelakaan nak…”, Ibu Nadean berbicara pelan.
“Mangkanya kamu jangan ngebantah! Sudah Ayah bilang jangan pergi ya jangan! Ini akibatnya!!”, sela Ayah Nadean. Nadean tertunduk. Dia menyentuh matanya yang diperban.
Tak lama seorang dokter masuk ke ruangan itu, sang dokter menyapa ramah.
            “Hari ini , kita akan membuka perban matanya.”, lanjut sang dokter.
Dibantu asistennya, sang dokter perlahan melepas gulungan yang melingkari kepala Nadean.
            “Sekarang coba perlahan buka matamu, pelan-pelan ya”, kata dokter itu. Nadean membuka perlahan kedua kelopak matanya. Gelap. Hitam. Masih saja sama.
            “Bagaimana?”, tanya sang dokter. Ibu dan Ayah Nadean mulai cemas. Tiba-tiba Nadean menaggis.
            “Bu, aku ga bisa liat apa-apa, semuanya gelap!”, Nadean mulai menjerit.
            “Pak mari kita bicara di luar.”, pinta sang dokter, Ayah Nadean mengikuti.
            “Dokter, ada apa ini?!”, tanya Ayah Nadean ,menguncang-nguncang tubuh dokter.
            “Nampaknya saat kecelakaan, mata Nadean dimasuki banyak kerikil. Maaf sepertinya ini akan jadi buta permanen.”, jelas sang dokter dengan wajah bersalah.
Ibu Nadean, mulai kehilangan kesadaran. Ayah Nadean terhenyak melihat kenyataan bahwa Nadean, anak satu-satunya, buta.
****
Hari ini Alisya mulai tinggal dirumah sakit. Dia tak tega menolak permintaan Ayahnya. Hanya 2 minggu saja, setidaknya bukan satu bulan, karena harus mengikuti lomba itu. Dia telah mengatakan kepada Ayahnya bahwa dia ingin menjadi penari internasional, tapi Ayahnya tak member jawaban. Wajah Ayah Alisya sangat pucat dari kemarin. Sekarang dia tengah berkeliling rumah sakit karena bosan. Lalu tiba-tiba mata Alisya melihat orang yang sangat dikenalnya
“Dokter, ada apa ini?!”, seorang bapak-bapak menguncang-nguncang tubuh dokter.
            “Nampaknya saat kecelakaan, mata Nadean dimasuki banyak kerikil. Maaf sepertinya ini akan jadi buta permanen.”, jelas sang dokter dengan wajah bersalah.
            “Nadean?”, batin Alisya. Dia hendak berlari mendekati bapak-bapak itu, tapi tiba-tiba dia merasa sesak dan terjatuh di lantai.
****
            “Sudah sadar?”, seorang dokter memeriksa keadaan Alisya.
            “Diamlah di kamarmu, kau bisa pingsan lagi jika kau nekat.”,lanjutnya.
            “Dok, jangan kasih tau Papa ya.. “, pinta Alisya dengan wajah penuh pengharapan.
            “Iya, mangakanya kamu jangan keluyuran terus.”, uacap Dokter.
            “Dok, sebenarnya apa yang terjadi apa saya?”, tanya Alisya lemah. Dokter namapak terdiam dia tak tau kata-kata apa yang bagus untuk disampaikan membuat Alisya heran.
            “Katakan saja Dok, dari awal saya tau bahwa saya akan meninggal di usia muda.”, lanjut Alisya. Sang Dokter menghela nafas.
            “Ginjalmu telah rusak parah, tubuhmu kekurangan air, itu kenapa kau sering pingsan. Tidak ada banyak waktu lagi, 7 hari lagi kamu akan menjalani operasi.”, jelas sang Dokter, dia yakin Alisya dapat menerima semua itu.
            “Kemungkinan berhasilnya berapa Dok?.”, tanya Alisya perlahan.Dokter kembali diam.
            “Kemungkinannnya memang kecil, tapi kami akan berusaha semaksimal kami.” Kata sang Dokter,.
“Ya, tolong ya Dok.”, ucap Alisya tersenyum lirih.
“Baiklah, kami permisi dulu ya.”, Sang Dokter berlalu bersama asisten perawatnya. Alisya terdiam, matanya menjadi panas, perlahan air matanya keluar.
            “Selamat siang…”, seorang cowok tiba-tiba masuk ke  kamar pasien VIP Alisya. Spontan Alisya mengusap air matanya dan menoleh kearah pintu.
            “Kenapa lo? Nanggis?”, tanya cowok itu dan meletakkan bingkisan buah di meja.
            “Ga, gue ga nanggis.”, sangkal Alisya. Cowok itu pun manggut-manggut, dia lalu menyeret kursi ke dekat ranjang Alisya. Alisya menyeregitkan keningnya.
            “Mau ngapain lo kesini?.”, tanya Alisya.
            “Nememuin lo..”, jawab Evano tersenyum manis. Alisya menyipitkan sebelah matanya.
            “By the way, kita belum kenalan secara resmi. Gue Evano.”,kata Evano menyodorkan tangannya. Alisya menyambut tangan itu, dan menyebutkan namanya.
            “Alisya? kok di kaset loh ‘Nay’?”, tanya Evano heran.
            “Oh, itu nama belakang gue, Nayarra.”, jawab Alisya ringan. Evano kembali manggut.
            “Cepet sembuh ya, biar lo bisa jadi rival gue di lomba itu.”, kata Evano.
Alisya terhenyak, dia teringat dengan operasi itu dan teringat dengan sahabatnya dulu, Nadean.
            “Van, lo tau? Wings itu sebenarnya lagu untuk tari berpasangan. Tapi gue belum nememuin orang yang tepat.”, ujar Alisya lirih.
            “Berpasangan? Kenapa ga sendirian aja?”, tanya Evano, Alisya tertawa kecil.
            “WING itu impian gue, tarian yang menceritakan tentang seekor angsa yang berjuang terbang ke bulan dengan sayap yang tak terlalu kuat. Namun mendapat pinjaman sayap dari angsa lain.”, jelas Alisya dengan senyuman.
“Menarik, gimana kalo gue jadi pasangan lo? Gue pesimis dengan tarian gue. Please..”, pinta Evano. Dia lalu rapatkan kedua telapak tangannya ke depan mukanya. Alisya terkejut, dia diam, tertunduk memikirkan sesuatu agak lama dan akhirnya tersenyum tipis.
            “Boleh aja, apalagi lo juga mahasiswa tari, pasti lebih hebat. Besok gue ajarin gerakkannya.”, jawab Alisya, Evano tersenyum lebar. Alisya ikut tersenyum.
            “Gue akan bantu lo ngewujudin mimpi lo Sya, pasti.”, batin Evano.
*****

Ku Titipkan Impianku Padamu - #3

"Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam/Ulang tahun(?) semua :D hahahaha,akhirnya setelah sekian lama saya vakum kembali mebawa cerita ni :) Sebelumnya, bagi yg punya tugas buat cerpen, alangkah baiknya jangan sembarang meng-copy. Hmm , gini.. saya susah-susah bikinnya, sampe saya tidur jam 2pagi! bayangin!! karena hari itu juga saya harus sekolah jadi, saya hanya punya waktu tidur 3 jam *.* (sorry, kalo curhat).. :P
Well.. Happy reading :)"

Sore itu, Alisya meminta Alenna untuk datang ke rumahnya.
            “Masuk.”, sahut Alisya. Mereka menaikki tangga, dan sampai di kamar Alisya.
            “Kok lo pucet Sya? Lo sakit?”,tanya Allena kala itu.
            “Hm?Kayaknya gue kebanyakan latian deh.”,jawab Alisya memegang dadanya.
            “Jangan lupa istirahat! Bokap lo ga ada Sya?”, tanya Alenna,ia duduk di kursi komputer.
            “Habis nemenin gue check-up dia pergi, nah jadi mana kaset gue?”, tanya Alisya tanpa basa-basi.
            “Gue uda nyari kaset lo di gedung latian, seperti yang lo pinta tapi kaset lo ga ada di sana Sya, lo tinggalin dimana sih? di atas speaker kan? ”, jawab Alenna menggaruk-garuk kepalanya.
            “Maksud lo? Hilang?! God!Sebulan lagi lombanya! Mana gue ga ada copyannya lagi! “, Alisya memijat-mijat kepalanya pelan. Allena tak mau berkomentar.
            “Ha! Gue inget Na ! waktu gue latian pagi di sana, ada cowok pake sweater merah tiba-tiba masuk ke dalam gedung!”, sahut Alisya tiba-tiba.
“Cowok? Jam 4 ? ke gudeng latihan? Hmm..Besok deh gue coba tanyain ke Miss Suzy deh. Dia dosen gue, kunci gedung ada di dia. Ntar gue tanyain siapa yang pinjem kunci gedung latian terakhir kali. Mungkin aja bisa ngebantu.”, kata Allena panjang lebar. Alisya membelalakan matanya dan mengembangkan senyumnya, dia lalu memeluk Alenna erat-erat.
            “Thanks banget Na, lo sahabat gue yang paliiiing baik.”, kata Allisya.
            “Iyaa, lo pikir buat apa kita tetangaan 3 tahun lebih.”, jawab Allena tersenyum.
                                                                        ****
            Ruangan itu dipenuhi bau obat, disana berjejer alat-alat medis dan segala poster kesehatan terpampang diruangan itu. Disaat yang sama, Pak Brata menghadap seorang dokter.
            “Bagaimana Dok dengan kesehatan anak saya?”,tanya Pak Brata pelan.
            “Apakah akhir-akhir ini Alisya melakukan aktivitas berat?”,tanya sang Dokter.
            “Dia hanya bersekolah, les pun tidak saya izinkan. Kenapa Dok apa yang terjadi?”,kata Pak Brata tak sabar.
            “Kesehatanya semakin memburuk, Ginjanya sudah rusak parah,kita tidak bisa membiarkan Alisya kesakitan, kita harus segera melakukan operasi transpalasi ginjal.”, jelas sang Dokter. Pak Brata terhenyak.
            “Berapa kemungkinan berhasilnya Dok?”,Pak Brata menatap nanar sang Dokter.
“Kemungkinanya hanya 30% Pak. Setelah ini Bapak harus memeriksakan apakah ginjal bapak cocok atau tidak dengan Alisya.Bagaimana keputusan Bapak?”,jawab Dokter lirih.
Pak Brata hanya bisa terdiam, gagalkah dia sebagai Ayah? Apakah dia harus membiarkan Alisya mengalami kesakitan atau membiarkan Alisya menantang maut dalam operasi itu. Entahlah, Pak Brata tidak bisa mengerti, dia hanya bisa tertunduk sambil mengingat senyuman putrinya.

****

            Rasa penasaran Alisya sedikit tertutupi,hari itu Allena membawa informasi penting mengenai keberadaan kaset miliknya. Allena sudah mengetahui cowok yang dimaksudkan oleh Alisya. Mereka asyik ber-BBM ria, memperbincangkan cowok bernama Evano Fathan Hakim, mahasiswa seni tari semester 2, yang diduga tahu keberadaan kaset Alisya. Sayangnya Allena, tak mengetahui pasti orangnya karena Allena adalah mahasiswi seni musik semester pertama.
            Maka, Allena berusaha membantu Alisya, menemukan orang yang dipanggil Evano itu.
Dia bertanya dengan teman-teman dan kakak-kakak tingkat yang dikenalnya. Dan akhirnya, dia menemukann nomor handphone Evano dan Alisya memintanya.
                                                                        *****
            “Mau kemana kamu?”,tanya seorang bapak yang terlihat marah, saat Nadean hendak meninggalkan rumahnya.
            “Latian nari Yah.”,jawabnya datar, di pikirannya hanya satu meninggalkan tempat itu.
            “Nadean! Kamu itu sebentar lagi mau kuliah! Berhenti melakukan sesuatu yang ga ada gunanya! Kamu itu harus belajar dan masuk Kedokteran!”,bentak Ayah Nadean.
            “Ayah! Dean ini bukan anak kecil! Aku ga suka dipaksa! Aku cuma mau jadi penari internasional Yah! Itu yang Dean mau!.”, jawab Nadean tak kalah tinggi nada suaranya.
            “Penari Internasional?kau pikir hidupmu akan terjamin!Itu cuma impian konyol! Kau anggap dirimu sudah dewasa? Kau masih kecil Dean! Masuk ke kamar dan belajar!”,bentak Ayah Dean lagi.
            “Ga mau! Dean mau latian nari!!”,jawab Dean kasar, dia lantas berlari keluar rumah. Tidak menghiraukan jeritan Ayahnya, menghidupkan motor matic ungu muda-nya dan berlalu pergi.
“Dasar Ayah egois!”, Dia menyetir sambil terisak, dan tidak tahu bahwa hari ini, hidupnya akan berubah total. Dia mengemudi dengan kecepatan tinggi melewati begitu saja motor-motor yang berlalu di jalan itu. Namun saat dia berbelok, dia lupa mengurangi kecepatannnya, sebauh mobil juga melaju dengan kecepatan tinggi, Nadean berusaha menghindari mobil itu, dia pun tersungkur pinggir jalan, tangan dan kakinya terseret di aspal panas itu. Kepalanya terbentur,  banyak pasir kerikil menyerbu mukanya. Darah bercucuran, di sekelilinginya perlahan menjadi gelap. Nadean kelihangan kesadaran.
*****
            Evano sekarang tengah berdiri di depan gedung latihan, sebuah pesan singkat yang didapatnya tadi pagi, mengatakan bahwa sang pengirim ingin bertemu dengannya sore ini di gedung dan mengaku sebagai Nay, pemilik kaset WING. Tak lama ia melihat seorang perempuan bersweater merah marron datang mendekat.
            “Balikkin kaset gue.”, Alisya menggulurkan tangan kanannya tanpa basa-basi.
            “Jadi emang lo,ya?Lo tau dari mana nomor hape gue?”,tanya Evano sambil memainkan kotak disk bertuliskan WING di gengamannya.
            “Jangan banyak tanya cepet balikkin kaset gue.”,Alisya beranjak dari tempatnya ,dia mencoba meraih disk itu. Evano buru-buru mengangkat tangannya.
            “Komplikasi lagu lo bagus, gimana kalo lo ikut lomba? Acaranya sebulan....”,kata Evano.
            “Gue tau! Kaset itu buat lomba! Gara-gara lo gue ga bisa latian !”, sela Alisya, dia menaikkan nada suaranya.
            “Jadi lo saingan gue?  Gimana jadinya ya kalo kaset ini gue patahin didepan muka lo..”,canda Evano sambil menepak-nepak pelan kaset itu ke telapak tangannya.
            “Balikin ga! Cepet balikin!”, Alisya mulai melompat-lompat meraih kaset digengaman Evano. Tetapi tiba-tiba matanya berkunang, dia memegang kepalanya, sekelilingnya mulai gelap, tubuhnya lalu terjatuh ,dia hilang kesadaran. Evano yang melihat itu, dengan sigap menangkap tubuh Alisya. Kini Alisya ada di dalam dekapan Evano.
                                                            ****

Ku Titipkan Impianku Padamu - #2

"Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam/Ulang tahun(?) semua :D hahahaha,akhirnya setelah sekian lama saya vakum kembali mebawa cerita ni :) Sebelumnya, bagi yg punya tugas buat cerpen, alangkah baiknya jangan sembarang meng-copy. Hmm , gini.. saya susah-susah bikinnya, sampe saya tidur jam 2pagi! bayangin!! karena hari itu juga saya harus sekolah jadi, saya hanya punya waktu tidur 3 jam *.* (sorry, kalo curhat).. :P
Well.. Happy reading :)"

 
Keesokan harinya.
            “Nay, uda siang nih , ayo bangun. Hari ini upacara kan? ”, Pak Brata mengetuk-ngetuk pintu kamar anak tunggalnya itu.
            “Iya Pa, ini juga uda siap-siap.”,balas Alisya setengah memekik.
            “Hmm, buruan ya, Mbok Ina sudah nyiapin sarapan.”, balas Pak Brata lagi.
            “Iya, iya..”, jawaban dari Alisya menyeret Pak Brata meninggalkan pintu kamar anaknya.
‘Nay’ adalah nama panggilan dari ayahnya untuk Alisya, yang memiliki nama lengkap Alisya Shakira Nayyara.
Di dalam kamar, Alisya sibuk membuyarkan seluruh isi lemarinya, dan mengacak-ngacak rak bukunya.
            “Kemana ya? ”, tanyanya gusar dengan dirinya sendiri.
 Ia lalu merampas tas merah tuanya . Dengan tak sabar ia menumpahkan seluruh isi, dan kini semua barang berserakan diatas ranjangnya tampak tak sabar untuk menemukan sesuatu.
            “Astaga !! Disk gue ! Pasti ketinggalan disana !”, Alisya menepak dahinya.
Disk itu adalah disk yang berisi lagu tarian yang diciptakannya sendiri. WING, itulah judul dari kaset itu.
            “Ya sudahlah, ntar aja gue minta tolong dia aja.”,batin Alisya,lantas menyusul ayahnya.
            “Pagi Pa.”, Alisya mendekap tubuh ayahnya dari belakang, hal ini adalah kebiasaannya saat pagi hari. Dia lalu duduk di salah satu kursi.Meja makan itu hanya di duduki oleh mereka berdua saja. Mama Alisya telah meninggal dunia saat melahirkan adiknya, namun sayangnya nyawa adiknya juga ikut terenggut. Sudah 7 tahun berlalu. Sejak hari dimana sang istri meninggalkan dia dan Alisya, sejak 7 tahun yang lalu. Pak Brata bertekad akan mengurus,merawat, serta mendidik Alisya dengan penuh kasih sayang.
            “Jangan lupa nanti…”,Pak Brata berkata.
            “Kalo uda jam istirahat, izin ke guru nanti kita ke rumah sakit sama-sama.”, sela Alisya.
            “Pa, kemaren, dan semalem itu uda lebih dari 5 kali Papa ngingetin aku, jadi sampe kehafal kan.”, lanjutnya lalu diiringi dengan tawaan kecil.
            “Ini semua demi kebaikan kamu Nay.”, mata Pak Brata menerawang, dia lalu mengusap kepala anaknya.
            “Iya Pa, terima kasih atas semuanya.”, jawab Alisya tersenyum seceria mungkin, dia tidak ingin Ayahnya  terlalu khawatir tentang penyakitnya.
Gagal ginjal, karena penyakit ini,Alisya harus dioperasi, dan sudah 3 tahun ini Alisya harus bolak-balik rumah sakit setiap bulan sekali untuk memeriksakan keadaannya, setiap hari ia harus menegak benda kecil pahit yang disebut obat, dan setiap saat penyakitnya bisa saja kambuh membawa kesakitan yang luar biasa.
****
            XII Bahasa 1, seperti kebanyakkan kelas, kelas Alisya begitu riuh, kala itu guru yang seharusnya mengajar berhalangan hadir, mereka telah diberi tugas tetapi malah asyik dengan kegiatan masing-masing,
            “Loh Sya? Kok uda beres-beres buku? “, tanya Diana teman sebangku Alisya.
            “Hah? Gue mau pergi, tapi ntar balik lagi kok Di.”, jawab Alisya sambil membereskan buku-buku diatas mejanya.
            “Pergi? Oh ada urusan keluarga lagi?.”, tanya Diana, dia memperhatikan Alisya yang tengah membereskan bukunya.
            “Hmm, iya Di. Nah gue pergi dulu ya, dari tadi bokap gue telpon mulu ni. Byee.”, jawab Alisya, dia lantas menggendong tas ungu tuanya dan berlari kecil meninggalkan kelas.
            Tidak banyak yang bertanya-tanya dengan perginya Alisya. Sebulan sekali Alisya pasti akan meminta izin keluar sekolah, jika ditanya dia selalu memberikan jawaban yang sama ‘Urusan keluarga’ ,sampai-sampai ada gossip bahwa dia adalah penerus utama suatu perusahaan dan mewajibkannya untuk menghadiri pertemuan penting sebulan sekali. Ada juga gossip yang membuat dia geleng kepala, dia di gossipkan sebagai wanita yakuza dan selama sebulan sekali dia harus melakukan sidak terhadap anak buahnya. Alisya tidak pernah perduli dengan hal yang menurutnya menggangu. Dan dia sama sekali tidak ingin penyakitnya diketahui semua orang, hanya pihak guru saja yang mengetahui penyakit Alisya.
            Langah kaki Alisya telah menuntunnya ke ruang guru, tanpa ragu ia masuk dan menemui guru piket hari itu. Setelah meminta ijin dia keluar dari kantor dan membuat sambungan di BB Torchnya. Alisya menutup handphone, saat temannya , Allena Keysha Yasmine mengiyakan permintaannya. Ditatapnya wallpaper handphonenya, tampaklah 2 orang anak cewek mengenakan tutu, saling merangkul satu sama lain dan tersenyum lebar. Alisya menghela nafas.
            “Nadean, gue kangen nari bareng lo lagi.”, katanya lirih.
                                                                        ***** 
4 tahun sebelumnya.
“Hari ini Ibu akan mengumumkan siapa yang akan menjadi wakil sekolah kita untuk mengikuti kompetisi balet tingkat provinsi.”, ujar guru SMP Alisya dan  Nadean Chorine. Mereka adalah calon peserta yang akan dikirim untuk lomba itu, masing-masing telah berlatih keras, namun tetap saja hanya satu peserta yang boleh diikutkan dalam lomba itu.
            “Ibu harap yang tidak terpilih dapat berlatih lebih giat lagi.”, lanjut sang guru. Lalu Ibu guru membuat beberapa detik jeda, membuat suasana mereka semakin gugup.
            “Selamat Alisya! kamu yang terpilih dalam kompetisi balet.”,lanjut Bu guru tersenyum kepada Alisya. Nadean mulai geram.
            “Ini tidak adil !! tahun lalu bukankah dia juga menjadi wakil kompetisi dansa untuk sekolah kita! Lalu kenapa harus dia lagi! Ibu bilang berlatihlah lebih giat lagi! Aku sudah lakukan itu Bu! Siang malam aku berlatih !! tapi kenapa?!! Kenapa Alisya lagi! Alisya lagi!”,  Nadean menunjuk-nunjuk Alisya dan berteriak-teriak dalam aula itu. Dia sudah tak dapat membendung air matanya lagi. Alisya kaget ,dia tak dapat berkata-kata hanya diam membekam mulutnya dengan tangan kanannya.
            “Dean, kamu harus bisa berbesar hati menerima kekalahan. Kami tidak memilihmu bukan karena kamu tidak bagus, semuanya bagus, tetapi Ibu hanya memlih terbaik diantara terbaik. Kamu paham kan?”, Bu guru mencoba menenangkan Nadean, dia memengang erat bahu Dean.
“Sudahlah! “, dengan kasar, Dean menepis tangan Bu guru.
“Kenapa kamu diam saja Alisya?! Kamu senang kan bisa jadi wakil sekolah kita 2 tahun berturut-turut?! Iya kan?! Liat aja, mulai saat ini aku ga akan pernah kalah darimu! Aku benci kamu Sya!!!”, raung Nadean, air matanya bertambah deras mengalir. Lalu dia berlari keluar aula. Alisya hendak mengejar, namun seketika itu Bu guru menghalangi.
“Sya, biarkan dia sendiri dulu.”, kata Bu guru.
“Tapi Bu…”, jawab Alisya. sang guru hanya menggeleng pelan.
Sejak saat itu, Dean begitu membenci Alisya, mengganggap dia sebagai musuh. Alisya pernah mencoba meminta maaf, tetapi hati Nadean telah terkubur oleh kebencian.
****
            Kenangan pahit saat SMP itu telah lama berlalu, namun Nadean teguh untuk membeci Alisya, meskipun satu sekolah dan dulu bersahabat baik, tetapi mereka tak pernah saling sapa. Nadean  menjadi ambisius. Tak akan berhenti sampai ia puas mengalahkan Alisya.
Dia menggerakkan tubuhnya dengan lincah, dan melihat pantulan dirinya dikaca pada dinding itu. Ruangan itu adalah tempat latihan menari, sudah 4 tahun dia mendalami seni tari di sini.
            “Five Six Seven Eight!”. seorang koreografer menepuk-nepuk tangannya dan mengamati Nadean yang sedang latihan. Nadean nampak serius mengikuti ketukan demi ketukan, Gerakannya begitu mengangumkan.
            “Oke cukup! Pertahankan gerakkan dan stamina seperti tadi Dean!.”, kata sang koreografer, Nadean menghentikan gerakannya. Nafasnya terengah-enggah, keringat mulai bercucuran, sudah 30 menit dia menari. Dia duduk di lantai tempat latihan itu.
            “Dean, lombanya sebulan lagi,kamu bisa memulai debutmu sebagai penari internasional jika kamu memenangkan lomba itu.”, lanjut sang koreografer. Dean mengganguk.
            “Gue tak akan kalah dari Alisya!gue akan lakukain apapun supaya lo tau sakit hati gue saat itu! lihat saja siapa yang akan mewujudkan mimpinya duluan.Gue benci lo Sya. Benci..”, batin Nadean. Kebencian mengalir dalam mimpinya.
****